Al-Asma'i dan Bocah Fashahah


Ini adalah kisah al-Asma'i, seorang ahli sastra Arab. Suatu hari, al-Asma'i melewati suatu perkampungan orang Badui. Pada masa itu, orang-orang Badui terkenal dengan kafasihan tutur katanya atau memiliki fashahah yang bagus. Hal tersebut karena mereka masih memegang tradisi-tradisi lokal mereka yang erat kaitannya dengan perkembangan bahasa Arab.

Al-Asma'i banyak sekali menjumpai anak-anak yang asyik bermain di tengah hamparan pasir. Anak-anak tersebut saling berkomunikasi dengan bahasa-bahasa yang fasih.

Sebagai seorang pegiat sastra dan bahasa Arab, al-Asma'i tertarik untuk berbicara dengan mereka. Ia memanggil salah seorang dari mereka dan bertanya,

"Di mana ayahmu, Nak? اَيْنَ أَبَاكَ يَا صَبِيُّ؟

Bocah itu hanya memandang ke arah al-Asma'i dengan penuh kebingungan. Lalu ia pung mengulangi pertanyaan yang sama. Namun, kali ini tidak menggunakan kata أَبَاكَ melainkan dengan kata أَبِيْكَ


"Di mana ayahmu, Nak? اَيْنَ أَبِيْكَ يَا صَبِيُّ؟ 

Tetapi bocah itu masih juga diam tidak menjawab. Akhirnya al-Asma'i bertanya lagi dengan menggunakan kalimat yang sama, tapi marfu' اَيْنَ أَبُوْكَ يَا صَبِيُّ؟ yang artinya "Di mana ayahmu, Nak?"

Barulah pada pertanyaan ketiga ini, bocah tersebut bergeming dan memahami maksud pertanyaan al-Asma'i. Ia pung langsung menjawab dengan ungkapan yang sangat mencengangkan.

"Ayahku pergi ke padang sahara untuk mencari rezeki, jika sudah petang tiba ia pulang."

فَاءَ إِلَى الْفَيْفَاءِ لِطَلَبِ الْفَيْءِ فَإِذَا فَاءَ الْفَيْءُ فَاءَ

0/Post a Comment/Comments